oleh: Sylvi Dewajani

Belajar Harus Nikmat dan Nyaman

Musim ujian telah dekat, selepas libur panjang yang begitu menyenangkan. Mulai dari ujian nasional hingga bagi para pencari sekolah harus menghadapi berbagai ujian saringan di sekolah dan perguruan tinggi. Tidak hanya para siswa yang mulai merasakan tekanannya, namun juga para orang tua. Sebagian besar dari bapak dan ibu memantau dengan lebih intensif putra putrinya saat belajar. Salah satu kunci dari belajar adalah rasa senang. Belajar yang terjadi beriringan dengan emosi negatif akan menutup sebagian besar dari potensi diri pembelajar. Walhasil, sekeras apapun belajarnya, anak tidak akan mampu menghasilkan prestasi maksimal. Selain emosi yang berpengaruh, ternyata beberapa kebiasan belajar lain juga ditengarai sering dilakukan oleh beberapa siswa saat belajar.

Apa saja ya kebiasaan yang keliru dan masih sering dilakukan?

1. Menumpuk buku dan bahan yang akan dibaca di atas meja.
Di masa-masa ini tentulah banyak buku pelajaran yang antri untuk dilahap. Sering di antara kita meletakkan semua buku yang akan dibaca di atas meja, agar mudah untuk diambil, dijangkau dan maunya memberi semangat. Namun ternyata, menumpuk buku juga membuat kesan beratnya pekerjaan yang harus kita lakukan. Jika kita termasuk tipe yang tidak tahan terhadap beban berat kerja, maka tumpukan buku tersebut justru akan memberikan dampak negatif pada bagian otak yang dipengaruhi emosi, yang bernama amygdala.

Amygdala yang berada di ujung sistem limbic berfungsi sebagai gatekeeper semua informasi yang masuk dan keluar dari dan menuju otak. Begitu melihat tumpukan buku, emosi negatif akan membajak kerja otak kita dengan mengecilkan volume ukuran sang gatekeeper. Dapat dibayangkan bagaimana proses antrinya informasi yang berusaha masuk ke otak kita tersebut.

2. Mencatat dengan menggunakan otak kiri saja
Kebiasaan kedua adalah, semenjak dulu, saat mencatat selalu menggunakan model linear, seperti halnya tulisan ini. Seperti kita pahami, otak terdiri dari 2 buah belahan kiri dan kanan yang setiap belahan memiliki fungsi dan sifat yang berbeda satu dengan yang lain. Otak kiri bekerja secara sangat linear, logis dan teratur. Sementara otak kanan bekerja lebih acak, abstrak dan intuitif. Belajar hanya berfokus pada salah satu belahan otak, tidak akan optimum, selain kekuatan belajarnya lebih rendah, tentu saja sifat otak kanan yang cenderung random akan membuatnya mengganggu proses belajar yang sedang terjadi jika tidak diajak belajar bersama. Untuk itu, saat belajar, kenali fungsi dan sifat dari kedua belahan otak, lalu lakukan stimulasi agar keduanya dapat kompak bekerja.

Saat belajar aktifkan semua belahan otak dengan menulis, yang dapat memicu otak kanan dan kiri, seperti menggunakan alat tulis berwarna, menambah gambar penguat dan menatanya secara radiant. Ingat, syaraf otak kita tidak bekerja secara linear, namun bersifat radiant atau menyebar. Tony Buzan (1974) mulai mengenalkan metode mencatat ‘mind mapping’ melalui BBC English. Dengan mind mapping, baik otak kanan maupun kiri dapat bekerja secara kompak, untuk belajar sebuah konsep secara efektif.

3. Mendengarkan musik sambil belajar
Hampir setiap anak remaja menyukai musik, teman dalam sedih ataupun saat sedang bahagia. Sambil bernyanyi kecil, telinga ditempel ‘earphone’, anak-anak remaja biasa menghabiskan sebagian besar waktunya. Demikian juga saat belajar. Nah, ada juga sebagian remaja yang menangkap salah penelitian tentang dampak musik pada proses belajar. Musik memang berpengaruh dalam proses belajar kita, namun dengan beberapa persyaratan, seperti (1) diperdengarkan sangat lirih, hingga dapat ditangkap telinga tetapi tidak diapresiasi; (2) memiliki ketukan 4/4 atau andante, yang sesuai dengan kecepatan neurotransmitter gelombang otak alpha; dan (3) berasal dari alat musik akustik.

headphoneJadi menggunakan musik secara benar dalam belajar bukan didengarkan secara keras, bahkan mendominasi pendengaran. Juga bukan dengan mendengarkan musik elekton, yang memiliki ritme tinggi. Namun, musik yang berasal dari alat akustik, dengan ketukan andante dan diperdengarkan lirih. Pada saat suatu stimulus masuk ke telinga dan mulai menyentuh batang otak, maka akan memasuki sebuah jalur tunggal, tidak lagi bercabang seperti pada bagian syaraf lain yang mampu menerima dari berbagai cabang alat indera.

Manakala stimulus yang masuk ke batang otak, berasal dari beberapa sumber, seperti musik dan bacaan yang sedang dipelajari, maka batang otak akan membagi jalur tunggal tersebut menjadi dua buah saluran, saluran untuk mendengaran musik dan untuk membaca. Walhasil, tentu saja jalan untuk memahami hal yang dipelajari semakin menyempit. Nah…saat belajar sambil mendengarkan musik keras menghentak, manggut-manggut, kira-kira mana yang lebih merasuk dalam proses mental kita, bacaan belajar atau musiknya. Lalu, apa yang akan terjadi jika kita belajar sambil mendengarkan musik dan nyemil? Sekarang kita tahu bagaimana cara memanfaatkan otak kita dengan baik.

4. Minum dan makan yang banyak mengandung gula dan MSG
Makanan dan minuman apa yang paling sering menjadi asupan saat kita sedang belajar dengan konsentrasi tinggi. Apakah kopi? Coklat? Susu hangat? Cheese cake? Sup? Atau yang lain? Coba perhatikan tayangan [ ini ] bagaimana otak kita akan justru mudah kehilangan konsentrasi dan memori karena terlalu banyak gula dan pada link [ ini ] untuk melihat bagaimana pengaruh MSG.

Oleh karenanya banyaklah minum air putih saat kita belajar, agar otak semakin mudah berkonsentrasi dan menyerap informasi. Hindari makan dan minum yang banyak mengandung gula dan MSG yang terlalu banyak karena akan lebih mengaktifkan gerakan fisik dan mengganggu konsentrasi kita. Oleh karenanya, hati-hati saat memilih makanan yang sehat untuk meningkatkan mekanisme belajar kita.

5. Stress dan tertekan saat belajar
Stress, semua orang pasti pernah merasakannya. Terutama saat akan menghadapi ujian seperti saat ini. Stress adalah kondisi tertekan yang menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman. Stress secara alamiah atau otomatis dapat memicu munculnya hormon adrenalin, yang meningkatkan tekanan darah, detak jantung, kecepatan metabolisme pun ikut meningkat.
Dalam waktu yang lama, stress dapat menghasilkan kortisol (sering disebut hormon stress) yang dapat memblok kemampuan seseorang untuk mengingat.

Banyak sumber penelitian tentang stress yang dapat menghambat belajar ini. Jika ingin menggali lebih dalam dapat melihat sajian penelitian di youtube berikut

atau

Hindari stress apalagi yang berkepanjangan dengan selalu melakukan relaksasi, menata lingkungan dan pikiran kita.

Last but not least, tulisan ini dibuat agar kita dapat menyingkirkan kebiasaan salah dalam belajar, dengan mengganti menjadi kebiasaan yang lebih baik untuk belajar.

Semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *