“How you treat your people represents  how you treat yourself”
— K. Wisnuaji–

oleh: Kristianto Wisnuaji

“Tuhan adalah jawaban atas segala sesuatunya”, kita sebagai makhluk ciptaan–Nya dalam kehidupan pribadi tentu akan memegang teguh prinsip tersebut dan menjadikan dasar pada setiap langkah yang kita pilih. Di dalam kehidupan berorganisasi/perusahaan terdapat juga suatu konsep “Kepemimpinan adalah jawaban atas segala sesuatunya”. Artikel ini tidak bermaksud menyetarakan Tuhan dengan kepemimpinan manusia, akan tetapi lebih fokus pada proses pengambilan keputusan di suatu organisasi/perusahaan.
Berkembang atau tidaknya suatu perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinannya (leadership) karena keputusan manajerial ada di tangan pemimpin. Pemimpin yang transformasional akan mampu membuat keputusan-keputusan yang memberikan harapan-harapan baru kepada para bawahannya dan berusaha untuk merealisasikannya. Bukan pemberi harapan palsu alias PHP.

Setiap organisasi di mana kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai dan etika positif dapat selalu  mengembangkan kemampuan untuk menghadapi tantangan apapun, bahkan dalam masa-masa sulit. Hal ini dikarenakan nilai-nilai (values) perusahaan menjadi alat penerangan yang mencerahkan masa depan perusahaan.
Nilai-nilai kepemimpinan seperti apakah yang dimaksud?
Tingkat kepemimpinan yang paling tinggi adalah pemimpin yang mampu mensinkronisasi antara kerendahan hati (personal humility) dan keinginan untuk bersikap profesionalisme yang konsisten. Menurut Jim Collins dalam bukunya yang berjudul Good to Great, sebuah perusahaan akan melakukan lonjakan jika pemimpinnya sudah masuk ke  “LEVEL 5” yaitu pemimpin yang mampu mengaplikasikan dua hal di atas secara bersamaan dan konsisten.
Pada saat ini, banyak perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin pada level 4 (Effective Leader), yaitu pemimpin yang berkomitmen pada visi serta standar kinerja. Bahkan banyak pula yang berada pada level 3 (Competent Leader), yaitu pemimpin yang hanya fokus pada pengelolaan sumber daya dan pencapaian target perusahaan.
Sinkronisasi antara kerendahan hati dan sikap profesionalisme yang konsisten memang bukan hal yang mudah dilakukan, akan tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Tentunya proses pencapaian level ini membutuhkan jam terbang sebagai pemimpin yang cukup lama dan selalu berlandaskan nilai-nilai (values driven) yang positif baik dalam kehidupan pribadi maupun perusahaan.
Dengan kerendahan hatinya, pemimpin akan mampu membawa gerbong perusahaan secara selaras dan tanpa ada pihak yang merasa dirugikan dalam mencapai tujuan perusahaan. Sedangkan dengan sikap profesionalisme yang konsisten, pemimpin akan mampu membawa perusahaan mencapai rate of return dan profit margin yang diharapkan oleh stakeholder.
Tidak lama lagi, kita akan menjalankan pesta demokrasi, yaitu pemilihan presiden, marilah kita memilih sosok pemimpin yang sudah masuk pada level 5 agar Negara kita dapat berkembang pesat dalam waktu sesingkat-singkatnya. Bukan lagi pemimpin yang berada pada level 4 dan 3 atau bahkan pemimpin PHP (pemberi harapan palsu).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *