oleh: Sylvi Dewajani

Isu kekerasan di sekolah merebak akhir-akhir ini. Dimulai dengan berita yang sangat mengagetkan dari IPDN di tahun 2008, hingga beberapa kasus kekerasan yang ada di Sekolah Menengah maupun Sekolah Dasar. Kasus tawuran, perkelahian dan penganiayaan saat masa orientasi sekolah, menunjukkan bahwa praktek kekerasan (bullying) di sekolah masih kental terjadi. Selain itu, eksistensi kehidupan ”geng” yang telah lama muncul di sudut sekolah maupun komunitas lain, dirasakan cukup memberikan tekanan bagi remaja saat ini. Berbagai macam ”geng” dengan berbagai macam tujuan memang tumbuh disela aktivitas remaja saat ini. Terkadang aktivitas ”geng” ini tak nampak namun nyata adanya. Mulai dari mencari popularitas dengan cara memberi keterampilan dan identitas khusus pada anggotanya sampai yang berusaha memeras (bullying) pada siswa atau remaja yang lebih lemah.

Kenyataan di atas bukan suatu cerita yang dapat dihapus dalam waktu sesaat. Semua gambaran kejadian yang ada di dalam kasus kekerasan tersebut sangat dipengaruhi oleh “karakter” remaja. Karakter yang melekat dalam diri remaja untuk dapat menghargai dan menghormati orang lain, serta karakter untuk melakukan perbuatan yang bertanggung jawab merupakan gambaran yang hilang dari cerita di atas. Menyitir pendapat Menteri Pendidikan Nasional, bahwa cerita kekerasan di sekolah banyak diwarnai dengan absennya akhlak dan budi pekerti. Namun, muncullah pertanyaan berikutnya, siapakah yang wajib mengembangkan akhlak dan budi pekerti atau karakter siswa? Sekolah? Masyarakat ataukah keluarga?

Karakter manusia tidak hanya dilahirkan, namun dikembangkan. Karakter dikembangkan melalui proses pengenalan ”nilai hidup” dan budaya melalui tiga lembaga utama, yaitu (1) keluarga; (2) lembaga pendidikan dan (3) masyarakat. Ketiga lembaga inilah yang akan bertanggung jawab akan terbentuknya karakter generasi suatu bangsa. Karakter merupakan satu penanda mengenai siapa diri kita sesungguhnya, bagaimana cara kita berpikir dan berperilaku. Karakter sangat ditentukan oleh apa yang kita lakukan, kita katakan, dan kita yakini (Boyatzis, 1995). Karakter dapat ditunjukkan dari tingkah laku kita saat tidak ada seorangpun yang melihat. Menurut pakar pendidikan karakter, Lickona (1991) karakter yang positif terdiri atas bagaimana seseorang dapat mengetahui kebaikan, memiliki keinginan untuk berbuat baik dan juga melakukan hal-hal yang baik.

Unduh artikel lengkapnya di sini (pdf)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *