oleh: Sylvi Dewajani

“Aku adalah makhluk Allah yang diturunkan di bumi ini untuk meneruskan kehidupan MAMA dan PAPA. Bahkan dari do’akulah mama dan papa akan dapat terus menabung amalan di akherat nanti. Namun, aku pula makhluk yang belum terbentuk, jernih dan putih. Aku membutuhkan orang lain untuk memberi ujud, bentuk, warna serta makna dalam kehidupanku, sehingga menjadi investasi dunia dan akherat bagi MAMA, PAPA serta khalayak ramai.”

Demikianlah sekelumit kalimat yang tertera dalam hati seorang anak, yang masih membutuhkan sentuhan orang tua. Seorang anak yang tidak pernah secara OTOMATIS menjadi baik, yang memerlukan proses belajar agar dapat menjadi manusia yang penuh makna

Apakah anak terlahir dengan segala sifat dan kepribadian yang dimilikinya? Ataukah sifat dan kepribadian tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya? Dari kedua pertanyaan di atas, kita perlu tanamkan di dalam hati kita bahwa kepribadian, sifat dan bahkan sikap yang dimiliki seseorang lebih dipengaruhi oleh lingkungannya, bukan oleh keturunan atau bawaan. Feldmann (2005) menaksir komposisinya kira-kira 20:80 (bawaan:lingkungan).

Dengan demikian, jelaslah bahwa mengantarkan anak menuju pribadi yang sejahtera tidak akan dapat terjadi secara otomatis. Diperlukan stimulasi yang intensif, konsisten dan tepat dalam mengembangkan kepribadian tersebut. Agar lebih mudah, pada tulisan ini akan saya bagi ke dalam beberapa aspek yang dapat mempengaruhi terbentuk-nya kepribadian seseorang.

Baca artikel lengkapnya di sini (pdf)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *