oleh: Sylvi Dewajani

Berbagai sumber menyatakan bahwa kesuksesan seseorang lebih dipengaruhi dari karakter yang dimiliki dibandingkan kecerdasan intelektualnya. Mitshubisi Research Institute (2000) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang 40% bergantung pada soft skills yang dimilikinya, 30% tergantung pada kemampuan networking dan 20% tergantung pada kecerdasannya, baru 10% diantaranya ditentukan dari uang yang dimilikinya. Selain itu, sebagian besar keberhasilan seseorang dalam mencari pekerjaan bukan dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan seseorang di dalam mengelola diri. Sebagian besar direktur SDM dari perusahaan besar di Indonesia, maupun perusahaan multinasional akan sepakat dengan pernyataan di atas. Oleh karena kesuksesan seseorang yang nyata-nyata dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengelola diri, maka sekolah diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tersebut, bukan hanya menghasilkan lulusan didik yang cerdas intelektual saja.

Karakter entrepreneurship sangat cocok sebagai modal untuk dapat sukses di era global seperti saat ini. Mengembangkan karakter entepreneurship, bukan berarti menciptakan pedagang atau wira usaha, namun terlebih dari itu, jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) ini dipandang sebagai satu ciri karakter yang memiliki kekuatan pribadi dalam menghadapi tantangan dunia. Seorang dengan karakter entrepreneurship ini, diharapkan mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa.

Langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan karakter “entrepreneurship” adalah sebagai berikut:

1) Menetapkan karakter ’entrepreneurship’ sebagai satu visi lembaga pendidikan kita, dan melakukan persamaan persepsi tentang deskripsi operasional tersebut.

2) Mensosialisasikan sikap dan nilai ’entrepreneurship’ kepada seluruh civitas akademika sekolah, termasuk orang tua dan stakeholder

3) Menurunkan visi ’entrepreneurship’ ke dalam praktik kehidupan sehari-hari di sekolah, melalui: (a) penetapan aturan berserta sanksi yang berkait dengan karakter entrepreneurship dan diterapkan pada setiap anggota sekolah kita; (b) mengembangkan poster, banner dan berbagai atribut yang dapat mengingatkan anggota sekolah akan karakter entrepreneurship; (c) mengembangkan aktivitas sekolah yang mengandung nilai ’entrepreneurship’, baik dalam aktivitas protokoler maupun kegiatan penunjang lainnya

4) Mengembangkan ’role model’ dari karakter entrepreneurship dimulai dari Kepala Sekolah dan Manajer Sekolah lain, Guru dan Pegawai administrasi. Role model harus selalu mempraktekkannya pada setiap kesempatan, sehingga dapat terlihat dan dimaknai oleh siswa.

5) Mendesain proses pembelajaran dan penugasan yang memiliki kandungan nilai dan karakter entrepreneurship. Setelah tugas dikumpulkan, disediakan sesi refleksi untuk menginternalisasikan proses yang telah terjadi.

6) Mengembangkan aktivitas yang melibatkan orang tua siswa dalam proses peningkatan nilai dan karakter entrepreneurship.

Perlahan namun pasti, proses peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia pun akan terwujud, dimulai dari pendidikan yang paling dini. Tentu saja di akhir paper ini, masihlah perlu disampaikan bahwa kualitas generasi suatu bangsa, sangat bergantung pada keterpaduan 3 institusi, yaitu institusi keluarga, sekolah (pendidikan) dan masyarakat. Dengan demikian, optimisme ke arah Indonesia yang lebih aman, nyaman, damai dan sejahtera dapat terwujud, karena memiliki SDM yang handal.

Unduh artikel lengkapnya di sini (pdf)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *