oleh: Kristianto Wisnuaji

“Change is a constant reality in today’s workplace, causing substantial psychological stress within a workforce concerned about its livelihood and quality of life.”
(Joseph G. Wojtecki, Jr., and Richard G. Peters)

Keberhasilan suatu perusahaan di masa yang akan datang tergantung dari pemahaman dan kelangsungan bisnis serta keberhasilan mewujudkan visi. Dalam mensinergikan dan menyamakan visi, perusahaan harus fokus pada permasalahan mengenai integrasi seluruh karyawan, seperti Leadership, struktur perusahaan, culture atau budaya perusahaan, dan kinerja. Pada proses sinergi ini akan terjadi perubahan-perubahan (changes) yang harus dihadapi oleh masing-masing karyawan. Komunikasi yang strategis dan sistematis kepada para karyawan mengenai hal-hal tersebut diatas, sangat diperlukan agar satu kata di dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Memahami rasa khawatir para karyawan dan antisipasi atas banyaknya pertanyaan yang muncul dari mereka merupakan hal paling penting dalam mengkomunikasikan suatu perubahan.

Cara dan metode komunikasi dapat disesuaikan dengan kondisi tertentu suatu kelompok karyawan. Oleh karena itu agar penyesuaian tesebut lebih mudah dilakukan, sebaiknya dipilih beberapa karyawan yang mewakili berbagai kelompok atau unit kerja sebagai “agent of change”. Melalui agent of change inilah, perusahaan dapat mengkomunikasikan perubahan secara strategis dan sistematis.

“Apakah akan ada pengurangan karyawan?”
“Apakah saya akan dipecat?”
“Apakah saya akan dipindah tugaskan?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang akan beterbangan bagai lebah yang siap menyengat di benak setiap karyawan. Kemudian di lingkungan perusahaan akan muncul rumor yang menjamur di setiap sudut. Rumor tersebut muncul sebagai akibat dari “kekosongan” komunikasi. Ada hal-hal yang belum dikomunikasikan dengan baik oleh perusahaan kepada para karyawannya.

changesSebelum hal itu terjadi, perusahaan harus bertindak cepat dengan menyediakan dan mengkomunikasikan informasi yang akurat dan transparan kepada para karyawan, meskipun tetap harus melalui perencanaan strategi komunikasi yang cermat. Tujuan dari perencanaan strategi komunikasi adalah untuk menentukan strategi, tujuan, target audiens, pesan yang akan disampaikan serta metode pendekatan (implementation approach) yang akan digunakan. Perencanaan strategi komunikasi tidak harus ditulis dalam suatu dokumen formal, namun dapat dilakukan cukup dengan menyediakan waktu untuk memikirkannya kemudian dicatat dalam catatan kecil.

Di dalam artikelnya yang berjudul “Communicating Organization Change: Information Technology meets The Carbon-based Employee Unit”, JG. Wojtecky dan RG. Peters mengatakan bahwa resiko komunikasi yang mendasar adalah persepsi sama dengan realitas (perception equals reality). Komunikator harus memperhitungkan perubahan cara berpikir dan persepsi karyawan setelah mereka menerima suatu informasi. Umpan balik (feedback) diperlukan sebagai alat untuk menengarai persepsi dan perubahan cara berpikir para karyawan.

Akhirnya, janganlah kita khawatir atau bahkan alergi terhadap sebuah perubahan menuju perbaikan perusahaan yang dilakukan dengan komunikasi yang jelas, transparan dan konsisten oleh para pemimpin perusahaan. Sehingga para karyawan akan lebih fokus pada tugas pekerjaannya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *